"Siti Nurbaya" Sang Pencipta Ternyata Bukan Sastrawan Murni, Melainkan Seorang Dokter Hewan Penentang Adat Kolot!.

"Siti Nurbaya" Sang Pencipta Ternyata Bukan Sastrawan Murni, Melainkan Seorang Dokter Hewan Penentang Adat Kolot!.

Nuansamedianews.comNovel legendaris yang menguras air mata ini menceritakan nestapa seorang gadis yang terpaksa menikah dengan rentenir kejam, Datuk Meringgih, demi melunasi utang orang tuanya. ingatan kita pasti langsung tertuju pada satu nama: Siti Nurbaya. Lebih dari satu abad sejak diterbitkan pada tahun 1922, nama Siti Nurbaya telah melekat menjadi bagian dari budaya pop dan peribahasa sehari-hari.

Namun, di balik mahakarya yang mendunia ini, ada fakta mencengangkan yang jarang diketahui masyarakat luas. Sang penulis, Marah Roesli (atau dieja Marah Rusli), yang dinobatkan oleh Paus Sastra Indonesia H.B. Jassin sebagai Bapak Roman Modern Indonesia, ternyata bukan seorang sastrawan murni. Siapa sangka, pria visioner ini adalah seorang dokter hewan tulen yang sepanjang hidupnya setia mengabdi pada profesi medis tersebut!

Bagaimana kisah luar biasa seorang dokter hewan bisa melahirkan karya sastra paling berpengaruh di tanah air?

Darah Pemberontak dari Panglima Diponegoro

Marah Roesli lahir di Kota Padang pada 7 Agustus 1889. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan pergolakan nilai. Ayahnya, Abu Bakar, adalah seorang bangsawan Pagaruyung berpangkat Demang di Bukittinggi. Sementara ibunya memiliki darah pejuang yang sangat kental—ia merupakan keturunan langsung dari Sentot Alibasyah, panglima perang kepercayaan Pangeran Diponegoro.

Sejak kecil, Marah Roesli tumbuh dengan kegemaran mendengarkan tukang kaba (pendongeng keliling khas Minangkabau) dan melahap berbagai buku sastra Barat. Ketika beranjak dewasa, ia dikirim untuk menempuh pendidikan tinggi kedokteran hewan di Bogor (Buitenzorg).

Pendidikan modern Barat yang ia jalani membuka matanya lebar-lebar. Marah Roesli mulai melihat adanya jurang pemisah yang besar antara kemajuan zaman dan kaku-kolotnya aturan adat di kampung halamannya kala itu. Adat saat itu dianggapnya terlalu mengekang hak-hak kaum muda untuk berpendapat, serta merenggut kebebasan perempuan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri. Kegelisahan dan pemberontakan batin inilah yang kemudian ia tumpahkan menjadi untaian kalimat magis dalam novel Siti Nurbaya.

Menentang "Adat" di Dunia Nyata Demi Cinta Sejati. Uniknya, keberanian Marah Roesli menentang kekakuan adat tidak hanya terjadi di dalam lembaran kertas novelnya, melainkan terbukti nyata dalam kehidupan pribadinya.

Pada tahun 1911, Marah Roesli memicu prahara keluarga ketika ia memutuskan untuk menikahi seorang gadis Sunda pilihannya sendiri. Di masa itu, perkawinan antar-suku—terlebih bagi seorang lelaki Minang yang terikat sistem kekerabatan matriarkal—adalah sebuah pelanggaran adat yang sangat serius. Orang tuanya menentang keras pernikahan tersebut.

Namun, berbeda dengan karakter Samsulbahri dalam novelnya yang kalah oleh keadaan, Marah Roesli di dunia nyata berdiri sangat kokoh. Ia menolak tunduk pada paksaan keluarga, mempertahankan cintanya, dan berhasil menjaga bahtera rumah tangganya hingga akhir hayat bersama sang istri tercinta dan dikaruniai tiga orang anak.

Berjalan di Dua Dunia: Sastra dan Stetoskop Hewan

Satu hal yang membuat Marah Roesli begitu dikagumi adalah komitmennya pada profesi. Di era setelahnya, kita mengenal tokoh seperti Taufiq Ismail atau Asrul Sani yang juga berlatar belakang dokter hewan namun akhirnya berbelok total menjadi penyair dan sineas.

Berbeda dengan mereka, Marah Roesli memilih berjalan tegak di dua dunia sekaligus. Ia tidak pernah menanggalkan profesi medisnya. Dari awal berkarier hingga memasuki masa pensiun pada tahun 1952, ia terus aktif melayani masyarakat sebagai dokter hewan dengan jabatan terakhir yang sangat terhormat, yaitu Dokter Hewan Kepala. Bagi Marah Roesli, merawat hewan adalah tugas profesionalnya kepada negara, sementara menulis sastra adalah panggilan suci jiwanya untuk menyembuhkan penyakit sosial dan memperjuangkan emansipasi wanita.

Legasi Abadi Sang Maestro

Lewat Siti Nurbaya, Marah Roesli telah meruntuhkan dominasi bentuk sastra lama seperti hikayat dan syair yang cenderung kaku, lalu menggantinya dengan gaya bahasa roman modern yang emosional dan mengalir. Novel ini juga dipuji karena menanamkan benih awal emansipasi perempuan di Indonesia sebelum istilah itu populer seperti sekarang.

Atas dedikasinya yang luar biasa, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan Hadiah Tahunan dalam Bidang Sastra kepada Marah Roesli pada tahun 1969. Bahkan, gaung novel Siti Nurbaya berhasil menembus batas negara hingga diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Rusia.

Marah Roesli mengembuskan napas terakhirnya di Bandung pada 17 Januari 1968 dan dimakamkan di Bogor. Jasadnya boleh saja telah lama menyatu dengan tanah, namun kisah hebat tentang seorang dokter hewan yang mendobrak zaman lewat pena akan selalu hidup abadi dalam ingatan bangsa Indonesia.








Editor : (Marthagon)
Sumber: Wikipedia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Beberapa Jenis Santet, dan medianya...

Tim Sembilan : Harapan Masyarakat Perantauan Bukittinggi Agam Agar Paguyuban Jadi Satu

Empat Cerita Mistis di Riau yang Masih Terus Diperbincangkan Hingga Kini.