Krisis Adab dan Akhlak di Kalangan Generasi Muda Muslim Saat ini
Ilustrasi
Nuansamedianews.com - Krisis adab dan akhlak di kalangan generasi muda Muslim saat ini dipicu oleh lemahnya pendidikan agama, paparan konten digital/media sosial yang tidak tersaring, serta pengaruh budaya Barat (westernisasi). Dampaknya, banyak remaja kehilangan rasa hormat, terjebak hedonisme, dan berani berbuat maksiat terang-terangan. Sinergi keluarga, sekolah, dan lingkungan sangat krusial untuk menanamkan adab sejak dini.
Jika kita cermati kondisi kekinian, Istilah sekarang (Zaman Now), dikutip dari beberapa sumber, sebagian moral siswa telah mengalami kemerosotan. Mereka cenderung melupakan Adab terhadap gurunya. Padahal guru adalah orang tua kita di sekolah yang harus dihormati dan dimuliakan. Na'udzubillahi mindzalik, sungguh miris dan tidak beradab apa yang telah dilakukan oleh seorang siswa yang tega mencela, menghina, memaki hingga menganiaya gurunya sendiri. Perlakuan kasar tersebut menunjukkan bahwa siswa tersebut tidak memiliki adab.
Ada beberapa poin utama mengenai krisis adab dan akhlak generasi muda menurut pandangan Islam:
1. Dampak Teknologi dan Media Sosial: Penggunaan gejed yang berlebihan mengurangi interaksi sosial langsung, meningkatkan keangkuhan, dan membuat remaja kehilangan empati. Mereka cenderung meniru gaya hidup hedonisme dari influencer daripada nilai Islam.
2. Pergeseran Nilai dan Budaya:
Masuknya budaya luar (westernisasi) mengikis sopan santun dan adab pergaulan, membuat remaja lebih bangga memamerkan kesalahan (dosa) daripada menutupi, bahkan di bulan Ramadhan.
3. Kurangnya Pemahaman Agama:
Pendidikan agama yang tidak memadai, ditambah ketidakseimbangan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama, menyebabkan krisis akhlak.
4. Lingkungan dan Keluarga:
Kurangnya pengawasan orang tua serta pengaruh pergaulan teman sebaya yang buruk mempercepat penurunan moral.
- Solusi Islami: Diperlukan penguatan pendidikan agama di rumah dan sekolah, pemanfaatan teknologi untuk konten edukatif/dakwah, serta pendampingan intensif untuk membentuk karakter khairu ummah (generasi terbaik).
Dalam tradisi tasawuf, adab menempati posisi sentral, sehingga sebagian besar ulama menyatakan bahwa inti dari tasawuf adalah adab itu sendiri. Kata adab dalam kamus bahasa arab berarti kesopanan (Ahmad Warson, 1997:13). Sementara itu Kata ta’dib berasal dari kata addaba, yuaddibu, ta’dib yang artinya pendidikan, disiplin, patuh dan tunduk pada aturan. Ada juga yang memberikan arti ta’dib yang berarti beradab, sopan santun, tata karma, adab, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika (Abdul Mujib, 2006;10).
Para ulama telah mengajarkan kepada kita bagaimana adab seorang siswa terhadap gurunya. sebagaimana Imam Ibnul Mubarak pernah berkata: “Aku belajar adab selama tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu selama dua puluh tahun.” Begitu pentingnya belajar adab bagi para ulama hingga mereka mendahulukan ilmu adab dibanding ilmu lainnya. Mengapa para ulama mendahulukan belajar adab? Karena menurut Yusuf bin Al Husain bahwa dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.
Imam Syafi’i Rahimahullah pernah ditanya seseorang tentang bagaimana besarnya keinginan dan kesungguhannya untuk belajar dan memahami adab. Ia menjawab: "Ketika aku mendengarkan satu huruf saja tentang adab yang belum pernah aku dengar sebelumnya, maka aku rasakan seluruh anggota tubuhku menginginkan untuk mempunyai pendengaran sehingga mereka mendengarnya dan mendapatkan nikmatnya adab".
Orang tadi kembali bertanya kepada Imam Syafii: “Lalu bagaimana keinginanmu mempelajari adab itu?” Beliau menjawab: “Seperti seorang ibu yang sedang mencari anak satu-satunya yang hilang.” Lalu beliau berkata: “Ilmu bukanlah diukur dengan apa yang telah dihafal oleh seseorang, tetapi diukur dengan apa yang bermanfaat bagi dirinya.” Begitu besarnya kesungguhan Imam Syafii dalam belajar adab, patut dicontoh dan diteladani bagi generasi saat ini.
Dengan mengajarkan adab kepada mereka diharapkan akan lahir generasi yang beradab dan berakhlak mulia. Adapun adab siswa kepada gurunya sebagai berikut;
Pertama, Menghormati dan memuliakan Guru, perbuatan ini sangat mulia dan dapat diamalkan. Sebagaimana Rasulullah Saw., bersabda: “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati orang yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengerti hak ulama kami.” (HR. Al-Bazzar 2718).
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hendaklah seorang siswa memperhatikan gurunya dengan pandangan penghormatan. Hendaklah ia meyakini keahlian gurunya dibandingkan yang lain. Karena hal itu akan menghantarkan seorang siswa agar dapat mengambil manfaat darinya, dan lebih membekas dalam hati terhadap apa yang ia dengar dari gurunya tersebut” (Al-Majmu’ 1:84).
Kedua, Tawadhu. Rasulullah Saw., bersabda: “Pelajarilah ilmu, pelajarilah ilmu dengan ketenangan dan sikap hormat serta tawadhu’lah kepada orang yang mengajarimu.” Ilmu tidak akan dapat diperoleh secara sempurna kecuali dengan diiringi sifat tawadhu’ siswa terhadap gurunya, karena keridhaan guru terhadap siswa akan membantu proses penyerapan ilmu. Tawadhunya siswa terhadap guru merupakan cermin ketinggian sifat mulia yang dimiliki oleh siswa. Sikap tunduk siswa terhadap gurunya justru merupakan kemuliaan dan kehormatan baginya. Sudah seharusnya siswa memiliki sifat tawadhu’ terhadap ilmu dan guru, sebab dengan ketawadhu’an akan mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfaat.
Ketiga, Bertanya dengan lemah lembut. Seorang siswa harus bertanya kepada gurunya dengan penuh kelembutan. Siapa yang tidak mengenal Umar bin al-Khattab Ra., yang terkenal keras wataknya, namun Ia tidak pernah meninggikan suaranya di depan Rasulullah Saw. Bahkan para Sahabat lainnya tidak pernah mereka beradab buruk kepada Nabi, mereka tidak pernah memotong ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya.
Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya. Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya, apalagi hanya bertujuan menguji ilmu gurunya. Untuk itu Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya Hilyah Tolib al-Ilm memberikan nasehat “Beradab lah dengan yang terbaik pada saat kamu duduk bersama syaikhmu, gunakanlah cara yang terbaik ketika bertanya dan mendengarkannya".
Dengan demikian Ilmu memilki derajat yang tinggi di hadapan Allah Swt. namun adab adalah buah nyata dari ilmu itu. Para ulama telah mengajarkan kepada kita bahwa adab adalah tanda dalamnya ilmu seseorang. begitu pentingnya belajar adab maka siswa harus mempelajarinya terlebih dahulu. Semoga generasi muda kita akan menjadi genarasi yang beradab yaitu generasi yang mengintregasikan Iman, amal dan ilmu sekaligus dalam menjalani kehidupan ini. Sebab dengan generasi insan yang beradablah akan lahir generasi yang berakhlak mulia, berilmu, beriman, bertaqwa, tangguh, bermental pejuang dan pantang menyerah. Semoga bermanfaat, Wallahu A'lam Bishawab.
Editor: (Marthagon)

Komentar
Posting Komentar