Hakikat Kurban Hari Raya idul adha adalah, Penyembelihan Sifat-Sifat Hewani yang Bersemayam dalam Diri Manusia.
Hakikat Kurban Hari Raya idul adha adalah, Penyembelihan Sifat-Sifat Hewani yang Bersemayam dalam Diri Manusia.
Saat pemotongan hewan kurban Masjid Sabilul Janah.Nuansamedianews.com - Idul Adha adalah salah satu momentum paling agung dalam kalender Islam. Ia bukan sekadar hari raya dengan ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi sebuah jalan spiritual menuju kedekatan hakiki dengan Allah Swt.
Imam Al-Ghazali menguraikan bahwa dalam jiwa manusia terdapat tiga kecenderungan destruktif yang menyerupai karakter binatang.
Amarah seperti singa, yang mewakili sifat pemarah, angkuh, ingin menguasai, dan menindas. Manusia yang dikuasai amarah akan merasa superior, meremehkan yang lain, dan enggan tunduk pada kebenaran.
Syahwat seperti babi, melambangkan kerakusan, birahi yang tak terkendali, dan cinta dunia yang membutakan. Nafsu syahwat menjadikan manusia hamba kenikmatan dan kesenangan sesaat, menjauhkan dari kebeningan ruhani.
Tipu daya seperti srigala, mencerminkan kelicikan, manipulasi, dan pengkhianatan. Sifat ini membuat manusia pandai menipu demi kepentingan pribadi, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan duniawi.
Sifat-sifat ini, menurut Al-Ghazali, adalah penyakit hati yang menjadi penghalang utama antara manusia dan Tuhannya. Oleh karena itu, hakikat kurban adalah menyembelih bukan hanya hewan di hadapan manusia, tetapi juga menyembelih sifat-sifat buruk itu di hadapan Allah dengan kesadaran, tobat, dan perjuangan jiwa.Inilah makna terdalam dari firman Allah dalam surah Al-Hajj ayat 37:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
Artinya : Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian. (QS. Al-Hajj: 37)
Allah tidak butuh simbol lahiriah dari darah dan daging hewan kurban. Yang diminta oleh Allah adalah ketakwaan yang tersembunyi dalam hati, ketulusan niat, kesungguhan dalam mendekat kepada-Nya, dan keikhlasan dalam meninggalkan segala bentuk ‘penyembahan’ terhadap diri sendiri dan dunia.
Oleh sebab itu, hakikat berkurban yang sejati adalah ketika seseorang berhasil menyembelih sifat amarah dengan sabar, menyembelih syahwat dengan zuhud dan iffah, serta menyembelih tipu daya dengan kejujuran dan amanah. Maka dari proses inilah, lahir sifat-sifat mulia, rahmah (kasih) rahim (sayang), ikhlas (kemurnian niat), dan takwa (kesadaran akan Allah) yang menjadikan manusia layak disebut hamba Allah yang memenangkan Allah Swt, bukan memenangkan hawa, nafsu, dunia setan
Editor : (Marthagon)
Source: muisulsel.or.id

Komentar
Posting Komentar