Hakikat Kurban Hari Raya idul adha adalah, Penyembelihan Sifat-Sifat Hewani yang Bersemayam dalam Diri Manusia.

 Hakikat Kurban Hari Raya idul adha adalah, Penyembelihan Sifat-Sifat Hewani yang Bersemayam dalam Diri Manusia.

Saat pemotongan hewan kurban Masjid Sabilul Janah.

Nuansamedianews.com - Idul Adha adalah salah satu momentum paling agung dalam kalender Islam. Ia bukan sekadar hari raya dengan ritual penyembelihan hewan kurban, tetapi sebuah jalan spiritual menuju kedekatan hakiki dengan Allah Swt.

Agama Islam sangat realistis, dalam perintah berqurban, yaitu menyembelih hewan qurban, kita tidak diperintahkan untuk mempersembahkan semua bagian dari binatang yang disembelih, tapi kita juga boleh berpikir tentang diri kita. Dari hewan yang kita kurbankan, diperintahkan bahwa 1/3 bagiannya menjadi bagian untuk kita dan keluarga, dan 2/3 dibagi lagi: 1/3 untuk orang yang membutuhkan, yaitu orang-orang dhuafa, dan , 1/3 lagi untuk orang yang tidak butuh dan sebenarnya mampu, boleh jadi saudara atau teman, dalam rangka menjalin hubungan yang lebih harmonis. Nilai-nilai itulah yang terdapat dalam ibadah kurban.
 
Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba–yaqrabu–qurbanan, yang berarti ‘dekat’. Kurban dalam Islam adalah ibadah menyembelih hewan ternak pada hari-hari tasyrik dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Namun dalam dimensi spiritual, kurban adalah tanda kepatuhan total, pengorbanan ego (sifat binatang) dan hawa nafsu, serta wujud ketaatan seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Ketika kita bicara idul Adha dan Nabi Ibrahim, kita bisa berkata bahwa inti yang dikehendaki dari Hari Raya Qurban ini, yang pertama adalah mendidik kita untuk bersedia berkorban. Kita bisa bertanya sekrang, perlukah manusia berkorban? Kenapa kita harus berkorban? 

Hakikat kurban sejatinya tidak berhenti pada prosesi menyembelih binatang seperti unta, sapi, atau kambing, melainkan pada penyembelihan sifat-sifat hewani yang bersemayam dalam diri manusia. Ibadah kurban adalah simbol pengorbanan yang paling dalam, yaitu pengorbanan diri, ego, dan hawa nafsu. Seperti dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali, manusia tidak hanya memiliki jasad, tetapi juga membawa dalam dirinya kecenderungan sifat-sifat binatang yang harus dikendalikan dan bahkan ‘disembelih’.

Imam Al-Ghazali menguraikan bahwa dalam jiwa manusia terdapat tiga kecenderungan destruktif yang menyerupai karakter binatang.
Amarah seperti singa, yang mewakili sifat pemarah, angkuh, ingin menguasai, dan menindas. Manusia yang dikuasai amarah akan merasa superior, meremehkan yang lain, dan enggan tunduk pada kebenaran.
Syahwat seperti babi, melambangkan kerakusan, birahi yang tak terkendali, dan cinta dunia yang membutakan. Nafsu syahwat menjadikan manusia hamba kenikmatan dan kesenangan sesaat, menjauhkan dari kebeningan ruhani.

Tipu daya seperti srigala, mencerminkan kelicikan, manipulasi, dan pengkhianatan. Sifat ini membuat manusia pandai menipu demi kepentingan pribadi, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan duniawi.

Sifat-sifat ini, menurut Al-Ghazali, adalah penyakit hati yang menjadi penghalang utama antara manusia dan Tuhannya. Oleh karena itu, hakikat kurban adalah menyembelih bukan hanya hewan di hadapan manusia, tetapi juga menyembelih sifat-sifat buruk itu di hadapan Allah dengan kesadaran, tobat, dan perjuangan jiwa.Inilah makna terdalam dari firman Allah dalam surah Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ

Artinya : Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian. (QS. Al-Hajj: 37)

Allah tidak butuh simbol lahiriah dari darah dan daging hewan kurban. Yang diminta oleh Allah adalah ketakwaan yang tersembunyi dalam hati, ketulusan niat, kesungguhan dalam mendekat kepada-Nya, dan keikhlasan dalam meninggalkan segala bentuk ‘penyembahan’ terhadap diri sendiri dan dunia.

Oleh sebab itu, hakikat berkurban yang sejati adalah ketika seseorang berhasil menyembelih sifat amarah dengan sabar, menyembelih syahwat dengan zuhud dan iffah, serta menyembelih tipu daya dengan kejujuran dan amanah. Maka dari proses inilah, lahir sifat-sifat mulia, rahmah (kasih) rahim (sayang), ikhlas (kemurnian niat), dan takwa (kesadaran akan Allah) yang menjadikan manusia layak disebut hamba Allah yang memenangkan Allah Swt, bukan memenangkan hawa, nafsu, dunia setan

Jadi kepentingan kita sendirilah sebenarnya yang mengundang kita untuk berkorban. 
Korban itu yang dinilai Tuhan adalah ketulusan, semakin banyak berkorban dengan ketulusan, semakin tinggi akhlak, semakin sedikit berkorban, semakin sedikit akhlak. Kalau pengorbanan itu sudah tidak ada, akhlak tidak ada, kalau akhlak tidak ada, runtuhlah masyarakat. Itu substansinya dari Hari Raya Qurban, kita diminta berkurban demi orang lain, demi masyarakat, yang kebaikannya juga akan kembali kepada kita.

Mari kita sambut Idul Adha bukan hanya dengan menyembelih hewan, tapi juga dengan menyembelih ego dan nafsu kita. Semoga kurban yang kita lakukan menjadi jembatan menuju ketakwaan dan makrifatullah. 
Aamiin ya rabbal Alamin...









Editor : (Marthagon)
Source: muisulsel.or.id

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Beberapa Jenis Santet, dan medianya...

Tim Sembilan : Harapan Masyarakat Perantauan Bukittinggi Agam Agar Paguyuban Jadi Satu

Empat Cerita Mistis di Riau yang Masih Terus Diperbincangkan Hingga Kini.