AJPLH Laporkan ke Mabes Polri Terkait Lambannya Penanganan Laporan di Polres Pelalawan

Gambar
  AJPLH Laporkan ke Mabes Polri Terkait Lambannya Penanganan Laporan di Polres Pelalawan  PELALAWAN - Nuansamedianews - Aliansi Jurnalis Pemerhati Lingkungan Hidup (AJPLH) menyatakan akan melaporkan lambannya penanganan laporan di Polres Pelalawan ke Mabes Polri. Langkah tersebut direncanakan sebagai upaya meminta kepastian hukum atas dua laporan yang telah disampaikan sejak 2025. Kamis (22/10/2026). Ketua Umum AJPLH, Soni, S.H., M.H., M.Ling., menilai perkembangan penanganan laporan yang dinilai berjalan panjang perlu mendapat perhatian serius. Pihaknya berharap proses penyelidikan berjalan sesuai prosedur hukum acara pidana yang berlaku dan memberikan kejelasan kepada pelapor.  AJPLH Pertanyakan Perkembangan Laporan di Polres Pelalawan Berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) tertanggal 29 Juni 2026 yang diterima AJPLH, penyidik Satreskrim Polres Pelalawan menyampaikan bahwa penyelidikan masih berjalan. Dalam surat tersebut, penyidik meny...

Misteri dibalik angka Jam gadang Bukittinggi.

Jam gadang Bukittinggi 

Nuansamedianews.com - Jam gadang, Bukittinggi. 
Bagi anda yang pernah berkunjung ke Bukittinggi, Di kota ini terdapat sebuah monumen menjulang bernama Jam Gadang. Hampir semua orang mengagumi ikon kota Bukittinggi ini, namun tak banyak yang menyadari tentang keunikan dan misteri pada angka-angka romawi jam raksasa tersebut.

Jika dilihat lebih teliti, angka 4 romawi pada Jam Gadang ditulis IIII, bukan IV. Inilah yang menjadi tanda tanya, bahkan belum terpecahkan hingga sekarang. Benarkah angkah IIII mengandung simbol konspirasi atau hanya kesalahan dari si pembuat?

Bagi sebagian orang yang mempercayai teori konspirasi, angka IIII pada Jam Gadang merujuk pada kecemasan Belanda akan simbol IV yang merupakan singkatan ”I Victory” yang berarti ”Aku Menang”. Belanda takut angka IV menjadi pemacu semangat perjuangan Indonesia untuk merdeka.

Maklum, jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada controleur (sekretaris kota) Kota Bukittinggi kala itu. Pada masa penjajahan Belanda, bagian puncak Jam Gadang terpasang megah patung seekor ayam jantan. Namun patung ayam itu digandi menjadi bentuk klenteng pada zaman pendudukan Jepang. Ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan dan diganti dengan gaya atap bagonjong rumah adat khas Minangkabau.


Pendapat lain dari cerita warga setempat, angka IIII merupakan petunjuk jumlah korban tewas dalam pembangunan bangunan jam besar setinggi 26 meter tersebut. Monumen berwujud bulat dengan diameter 80 sentimeter dan ditopang bangunan dasar seukuran 13 x 4 meter.

Jadi versi cerita ini, angka IIII melambangkan jumlah tumbal tukang batu pada proses pembangunan jam yang konon hanya ada dua di dunia. Satu di Sumatera Barat dan kembarannya di Big Ben, Inggris.

Lantas mana yang benar? Biarlah keganjilan ini menjadi keunikan sekaligus tantangan bagi siapa pun untuk mengungkap misteri angka 4 Jam Gadang.(donred)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Beberapa Jenis Santet, dan medianya...

Empat Cerita Mistis di Riau yang Masih Terus Diperbincangkan Hingga Kini.

S.Ajie Panatagama, Siap Maju untuk Menjadi Ketua Organda DPD Provisi Riau Periode 2027 - 2032 Mendatang.