Hidup kekeluargaan dalam Islam

Gambar
Hidup kekeluargaan dalam Islam  Nuansamedianews.com - Hidup kekeluargaan dalam Islam adalah ikatan suci yang dibangun di atas dasar iman, kasih sayang, dan tanggung jawab untuk mencapai ketenangan hidup ( sakinah, mawaddah, wa rahmah ). Peran keluarga dalam Islam memiliki peran sentral dalam membentuk individu yang berakhlak mulia dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Orang tua memberikan kasih sayang dan perhatian yang tulus kepada anak-anaknya sekaligus berusaha menjadi teladan dalam menjalankan ibadah dan mengajarkan makna di baliknya. Hal ini menciptakan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak untuk berkembang dan belajar nilai-nilai agama dan moral yang baik. Akhlak yang telah diajarkan dalam keluarga tersebut juga harus diaplikasikan ke jenjang yang lebih tinggi seiring bertambahnya usia. Hal ini berarti bahwa tiap orang harus terus belajar dan mempraktikkan akhlak mulia dalam semua aspek kehidupannya, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dilansir dari l...

Misteri dibalik angka Jam gadang Bukittinggi.

Jam gadang Bukittinggi 

Nuansamedianews.com - Jam gadang, Bukittinggi. 
Bagi anda yang pernah berkunjung ke Bukittinggi, Di kota ini terdapat sebuah monumen menjulang bernama Jam Gadang. Hampir semua orang mengagumi ikon kota Bukittinggi ini, namun tak banyak yang menyadari tentang keunikan dan misteri pada angka-angka romawi jam raksasa tersebut.

Jika dilihat lebih teliti, angka 4 romawi pada Jam Gadang ditulis IIII, bukan IV. Inilah yang menjadi tanda tanya, bahkan belum terpecahkan hingga sekarang. Benarkah angkah IIII mengandung simbol konspirasi atau hanya kesalahan dari si pembuat?

Bagi sebagian orang yang mempercayai teori konspirasi, angka IIII pada Jam Gadang merujuk pada kecemasan Belanda akan simbol IV yang merupakan singkatan ”I Victory” yang berarti ”Aku Menang”. Belanda takut angka IV menjadi pemacu semangat perjuangan Indonesia untuk merdeka.

Maklum, jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada controleur (sekretaris kota) Kota Bukittinggi kala itu. Pada masa penjajahan Belanda, bagian puncak Jam Gadang terpasang megah patung seekor ayam jantan. Namun patung ayam itu digandi menjadi bentuk klenteng pada zaman pendudukan Jepang. Ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan dan diganti dengan gaya atap bagonjong rumah adat khas Minangkabau.


Pendapat lain dari cerita warga setempat, angka IIII merupakan petunjuk jumlah korban tewas dalam pembangunan bangunan jam besar setinggi 26 meter tersebut. Monumen berwujud bulat dengan diameter 80 sentimeter dan ditopang bangunan dasar seukuran 13 x 4 meter.

Jadi versi cerita ini, angka IIII melambangkan jumlah tumbal tukang batu pada proses pembangunan jam yang konon hanya ada dua di dunia. Satu di Sumatera Barat dan kembarannya di Big Ben, Inggris.

Lantas mana yang benar? Biarlah keganjilan ini menjadi keunikan sekaligus tantangan bagi siapa pun untuk mengungkap misteri angka 4 Jam Gadang.(donred)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Beberapa Jenis Santet, dan medianya...

Empat Cerita Mistis di Riau yang Masih Terus Diperbincangkan Hingga Kini.

Seringkali Orang Meremehkanmu Bukan Karena Kamu Tidak Cukup Baik, Ini Lima Alasannya