"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman)
Nuansamedianews.com - Kebaikan yang bersambungan adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus (kontinu/istiqamah), saling terkait, dan membawa dampak positif panjang bagi sesama. Dua unsur utamanya adalah konsistensi dan menularkan kebaikan ke hal lain.
Karena sesungguhnya pintu-pintu kebaikan terus diikuti oleh kebaikan-kebaikan yang lain. Barangsiapa yang dibuka untuknya satu pintu kebaikan, maka akan terbuka pintu-pintu kebaikan yang lainnya.
Dan ini adalah nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Para ulama mengatakan:
إن الحسنة تنادي أختها و تدعوها
Artinya :“Sesungguhnya satu kebaikan akan menyeru dan mengajak kebaikan yang lainnya”
Apabila dadamu lapang untuk melakukan satu pintu atau memasuki satu pintu dari pintu-pintu kebaikan, maka ini adalah nikmat Allah subhanahu wa ta’ala kepadamu. Karena kebaikan akan mengajak kebaikan yang lainnya.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ ﴿٦٠﴾
Artinya : “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman[55]: 60)
Dan juga firman Allah subhanahu wa ta’ala:
…وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا ۚ…
Artinya : “...Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu…” (QS. Asy-Syura'[42]: 23)
Sesungguhnya jika engkau telah memasuki satu pintu kebaikan walaupun kebaikan tersebut adalah perkara yang ringan, engkau akan mendapatkan pada kebaikan yang ringan ini akan mengajak kepada kebaikan yang lainnya. Kebaikan tersebut akan membuka kepadamu pintu-pintu kebaikan yang lain. Karena satu kebaikan akan mengajak kebaikan yang lainnya. Sebaliknya, keburukan, dosa, juga akan memanggil dosa-dosa yang lainnya.
Allah ta’ala berfirman:
ثُمَّ كَانَ عَاقِبَةَ الَّذِينَ أَسَاءُوا السُّوأَىٰ…
Artinya :“Kemudian hasil akhir dari perbuatan orang-orang yang berbuat buruk juga adalah keburukan...” (QS. Ar-Rum[30]: 10)
Dan diantara hadits-hadits yang semakna dengan apa yang kita sebutkan tadi yaitu hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:
مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ، يُرِيدُ بِهَا صِلَةً، إِلَّا زَادَهُ اللهُ بِهَا كَثْرَةً
Artinya :“Tidaklah seseorang membuka pintu pemberian dengan bersedekah atau dengan menyambung (hubungan kekerabatan), kecuali Allah ta’ala tambahkan kepadanya (kebaikan) yang banyak.” (HR. Ahmad)
Maka jika terbuka satu pintu kebaikan kepadamu, dari begitu banyak pintu-pintu kebaikan, maka masuklah ke pintu tersebut walaupun engkau melihat hal itu suatu yang kecil. Karena kebaikan yang sedikit akan mengajak kepada kebaikan yang lainnya. Demikian anda akan terus meningkat, terus bertambah, kebaikan-kebaikan yang ada pada diri anda selangkah demi selangkah.
Jangan sampai engkau menghalangi dirimu dari kebaikan, walaupun hal itu sedikit. Karena engkau akan dihalangi dari kebaikan tersebut. Dan Allah subhanahu wa ta’ala menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Maka manfaatkanlah kebaikan yang sedikit yang akan mengiringimu dan mengajakmu kepada kebaikan yang banyak.
Jangan meremehkan pintu kebaikan yang dibuka untuk orang lain. Karena barang siapa yang dibukakan kepadanya satu pintu dari pintu-pintu kebaikan, maka dia tidak boleh untuk mencela pintu kebaikan yang dibukakan untuk selainnya. Dan ketika dibukakan kepadamu satu pintu dari pintu-pintu kebaikan, seperti contohnya shalat, engkau diberikan taufik oleh Allah untuk rajin melakukan shalat atau rajin berpuasa sunnah, atau engkau diberi taufik oleh Allah untuk melakukan satu amalan dari amalan-amalan kebaikan, maka janganlah engkau meremehkan pintu kebaikan yang dilakukan oleh orang lain.
Karena bisa jadi dimudahkan kepadamu untuk banyak berpuasa, yang lain dimudahkan untuk membantu kaum muslimin dengan kegiatan-kegiatan sosial yang bisa jadi engkau melihat bahwasanya perkara itu remeh dibandingkan dengan shalatmu, sedekahmu atau puasamu. Padahal bisa jadi juga amalan orang lain lebih besar disisi Allah subhanahu wa ta’ala daripada apa yang engkau lakukan. Maka intinya disini kita tidak boleh meremehkan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Karena engkau berada diatas kebaikan, dia juga berada diatas kebaikan, maka kita tidak boleh untuk meremehkan atau mencela, menganggap enteng kebaikan yang dilakukan oleh orang lain.
Sebagian orang, dan ini adalah masalah yang terjadi di banyak diantara kita. Yaitu ketika seseorang diberi taufik untuk melakukan satu ketaatan dari ketaatan-ketaatan yang sangat banyak, puasa contohnya atau rajin Qiyamul Lail kemudian ia melihat orang lain tidak beramal seperti amalannya, bisa jadi dia menganggap remeh, menganggap enteng orang lain tersebut.
Padahal orang lain yang dianggap enteng bisa jadi ia juga mempunyai satu amalan yang tidak diketahui kecuali dia dan Allah subhanahu wa ta’ala dan amalan tersebut adalah amalan yang besar. Bahkan lebih besar daripada ketaatan yang manfaatnya kembali kepada pelakunya. Karena disana kita ketahui ada amalan-amalan yang manfaatnya kembali kepada diri seseorang yang mengamalkan dan kembali kepada orang lain. Dan ada amalan yang manfaatnya kembali kepada diri seseorang yang melakukannya saja. Oleh karena itu kita tidak boleh meremehkan satu kebaikan sedikitpun.
Source : radiorodja.com

Komentar
Posting Komentar